Posts

Nature in Literary Movement

Image
Nature in Literary Movements Choose Literary Movement: Transcendentalism Romanticism Realism Naturalism 🎧 Play/Pause Ambience 🎼 Play/Pause Soundtrack ⏮️ Prev ⏭️ Next Nature Spectrum: Spiritual → Deterministic Spiritual Emotional Observational Deterministic Simulated by yoga sudarisman. Illustrated by AI Copilot

Galeri Sampul ID

Image
Galeri Sampul Mahasiswa Filter Mata Kuliah: Semua Urutkan Nama (A-Z) Seru-seruan ala Yoga Buat Seru-seruan sendiri 1 2 3 4 5 Tampilkan Tunggu, sedang memuat gambar-gambar... Siapa saja yang sampulnya terkeren?

saeXhibit '25

Image
Selamat datang 2025. Lumayan terlambat untuk mengatakan itu. Tapi tidak untuk pembuahan karya. Alhamdulillah Juni 2025, berkolaborasi dengan mahasiswa sastra Inggris Fak. Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung kelas Introduction to Drama kelas 4A-4B menghasilkan puluhan video simulasi adegan dari naskah The Tragedy of Hamlet karya William Shakespeare dan The Glass Menagerie karya Tennessee Williams. Video-video tersebut adalah produk dari aplikasi Simulasi Adegan Elektronik (SAE) yang terus dikembangkan dari tahun ke tahun dalam pembelajaran Pengenalan terhadap Drama. Kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini, selain sudah menggunakan voice over , mahasiswa juga bermain dengan pencahayaan, pemilihan properti panggung dan beberapa gestur yang beragam dari tiap avatar SAE. Lebih dari itu, video-video yang dianggap masuk ke dalam kriteria ‘ramah ditonton’ akan dipajang dalam pameran virtua...

Privacy policy

  Privacy Policy for Yogaptek Privacy Policy Last updated: November 25, 2024 This Privacy Policy describes Our policies and procedures on the collection, use and disclosure of Your information when You use the Service and tells You about Your privacy rights and how the law protects You. We use Your Personal data to provide and improve the Service. By using the Service, You agree to the collection and use of information in accordance with this Privacy Policy. This Privacy Policy has been created with the help of the  Privacy Policy Generator . Interpretation and Definitions Interpretation The words of which the initial letter is capitalized have meanings defined under the following conditions. The following definitions shall have the same meaning regardless of whether they appear in singular or in plural. Definitions For the purposes of this Privacy Policy: Account  means a unique account created for You to access our Service or parts of our Service. Affiliate  means ...

Privacy Policy for Simulasi Adegan Elektronik

Privacy Policy Effective Date: August 28, 2024 1. Introduction SAE or Simulasi Adegan Elektronik  is committed to protecting your privacy. This Privacy Policy explains how we collect, use, and disclose your personal information when you   use our app available on Google Play.     2. Information We Collect Personal Information: We may collect the following personal information from you: Name (You may use any random names) Non-Personal Information: We may also collect non-personal information, such as your device type, operating system, and IP address. 3. How We Use Your Information We may use your information for the following purposes: To personalize your experience To communicate with you (e.g., updates, support) To analyze app usage and performance To comply with legal requirements 4. Your Choices You may request access to, correction of, or deletion of your person...

Vixpo 2024

Image
Akhirnya pecah telur juga. Tahun 2024 punya karya. Saya beri nama Vixpo 2024. Sebuah karya bersama mahasiswa semester 6 mata kuliah Penunjang Seni Rupa Intermedia jurusan Seni Rupa Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom. Di tengah perjalanan diskusi berminggu-minggu, saya merasa lebih dekat dengan karya mereka dan tertarik untuk merealisasikan proses pengkaryaan mereka secara digital. Karya-karya ini tentunya akan direalisasikan secara real pada mata kuliah lain (Studio). Kami hanya membicarakan dramaturgi dan menentukan elemen dramatis yang bisa diterapkan dalam karya mereka.  Vixpo berarti Virtual Expo. Masih dengan aplikasi Construct 2 saya merancangnya. Sebagai tambahan, sekarang saya menggunakan sweethome 3D untuk membuat tampilan interiornya. Mayoritas properti dalam media ini berlisensi Creative Common License yang Non-Komersil. Tentu saja penggunaan media ini ditujukan untuk kepentingan pembelajaran. Tidak bersifat komersil. Dari sekitar 12 karya, saya mengurasi enam...

Keluarga Sabitra

Image
Saat akhir tahun tersadar belum ada karya di tahun 2023, saya segera mencari di dalam daya imaji ini untuk sebuah karya. Harus punya karya. Wajib berkarya. Tapi karya apa? Setelah beberapa hari, melihat anak-anak sedang aktif dan pintar berkomunikasi, saya coba ajukan di rumah kecil kami, siapa yang ingin buat film kartun ? Semuanya kompak bersemangat menjawab mau. Saya langsung mengambil langkah untuk uji coba isi suara. Untuk mengetahui seberapa fokus mereka dalam memerankan tokoh. Ya, salah satu jantung animasi adalah pengisi suara . Dimulai dari Sae, si cikal ini bisa fokus membaca dan mendengarkan arahan untuk mengisi suara. Birru dan Atra bisa bergerak dengan 'tawaran-tawaran' tertentu. Maklum ketiga anak-anak saya masih TK. Bahkan Atra belum sekolah. Saya coba membuat alur kasar tentang sebuah keluarga dengan tema aktivitas keseharian. Dan jadilah sebuah film pendek dengan judul Keluarga Sabitra . Sabitra adalah singkatan dari nama-nama anak ka...

Jajan

Image
A Paragraph Called Marriage A Paragraph Called Marriage A Paragraph Called Marriage adalah buku saku reflektif karya saya dalam nama pena Alwan Nawla , ditulis untuk hati-hati yang tenang dan pencinta narasi pendek. Buku ini menyajikan fragmen perenungan tentang pernikahan, relasi, dan keheningan yang bermakna. Cocok untuk dibaca pelan-pelan, disimpan di saku, atau dijadikan hadiah kecil untuk pasangan dan sahabat. Format digital Kindle memudahkan akses di mana saja. 📖 Beli di Amazon

Sekapur Siroh

Tanya: Ustaz, apakah saya berdosa karena telah mempromosikan Fulan menjadi pemimpin? Awalnya saya percaya ia sangat baik dan saleh, tetapi setelah terpilih, ia menjadi 'pelupa' dalam banyak hal. Mohon penjelasannya. —Ibro Jawab: Ibro yang terhormat, Pertama, jangan terlalu militan dalam mempromosikan seseorang, karena setiap orang memiliki qolbu —yakni hati yang sifatnya berubah-ubah. Bukan kalbu (anjing), tetapi qolbu (hati). Oleh karena itu, kata-kata yang digunakan saat merekomendasikan seseorang sebaiknya tidak sepenuhnya meyakinkan. Misalnya, akan lebih bijak jika berkata: “Setahu saya, sepenglihatan saya, dia baik. Ia tidak pernah lalai dalam ibadahnya. Insya Allah cocok untukmu.” Daripada mengatakan: “Kamu dan dia pasangan serasi. Dia sudah cantik, baik, salehah pula. Saya yakin dia yang terbaik untukmu. Yakin banget. Saya tahu kesehariannya—siang: dhuha-nya tidak pernah terlewat, malam: tahajudnya terjadwal rapi.” Setiap orang baik dan saleh memiliki ...

Indah Karena Warna

Kalau semua orang di dunia ini baik, pasti tidak akan ramai. Kalau semua urusan di dunia lancar terus, pasti tidak akan ramai. Kalau semua mahasiswa nilainya A, pasti tidak akan ramai. Kalau semua keinginan terpenuhi, pasti tidak akan ramai. Coba bayangkan jika semua keinginan kita dikabulkan... Semua orang ingin sehat. Kalau semua makhluk di dunia dikabulkan keinginannya untuk selalu sehat, apa yang akan terjadi? Rezeki para dokter akan terhambat, dan hakikat ilmu kedokteran tidak akan berkembang. Semua orang ingin dipuji terus-menerus. Apa yang akan terjadi jika kita dipuji setiap jam, bahkan setiap menit? Mungkin kita akan muak, atau malah curiga: ada apa ini? Mencintai dan dicintai terus-menerus pun tidak akan ramai. Karena kita baru tahu arti mencinta saat pernah membenci, atau dibenci. Semua keinginan terpenuhi, pasti tidak akan ramai. Harus ada warna lain agar hidup terasa indah. Perlu kecewa untuk tahu bagaimana cara bertahan. Perlu menyesal untuk tahu bagaimana...

Tuan Putri dan Nenek-nenek

Image
Teringat permainan Nintendo waktu kecil: Super Mario Bros . Saat Mario dan adiknya, Luigi, berusaha menyelamatkan seorang putri yang dikurung di kastil berpenjaga naga. Entah apa tujuan Mario membantu, tapi itulah misi utama gim tersebut: menyelamatkan sang putri. Melewati berbagai level, keluar masuk pipa got, dan melenyapkan rintangan adalah cara tercepat agar bisa bertemu sang putri. Tapi... pernahkah kalian berpikir, bagaimana jika putri yang dikurung di kastil itu sebenarnya tidak ingin ditolong? Iya, saya baru kepikiran sekarang. Walaupun saya sudah sering menamatkan gim tersebut—alias menyelamatkan sang putri—dulu saya tidak pernah berpikir ke arah sana. Bagaimana kalau sang putri justru kecewa dengan kedatangan Mario? Mungkin ia berkata, “Mengapa kamu bermain gim terus, Mario? Tidak memikirkan hal lain. Jangan pikirkan saya!” Atau mungkin, “Biarkan saya berteman dengan Luigi!” Kadang, saya harus sampai ke titik itu. Sampai ke arah di mana saya bisa berpikir seperti...

Semuanya Gara-gara Doa Itu!!

Setelah beberapa hari dilanda ketidakjelasan, akhirnya saya memberanikan diri untuk berkatarsis ria—mencurahkan segala gundah—melalui catatan ini. Hehe... setidaknya itu membuat saya lebih tenang. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang mampu melihat kekurangan dalam diri sendiri (dan mohon doanya agar saya juga mampu mengoreksinya). Saat sakit ini dan itu, saya dimudahkan untuk mengetahui penawar yang cocok bagi raga. Atau saat dilanda kesedihan, insya Allah saya langsung disuguhkan berbagai solusi kebahagiaan. Alhamdulillah. Jangan terlalu lama terjebak dalam arus drama kehidupan. Cobalah sesekali keluar dari arus utama. Insya Allah, menyegarkan. Puja dan puji memang hanya milik Allah seutuhnya. Saya bisa seperti ini tentu karena Allah menghendakinya. Allah memberikannya karena saya memintanya. Mintalah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikannya. Kalian pikir doa kalian tidak dijawab? Allah menjawab dengan berbagai cara: mengabulkannya, menundanya, atau menggantinya dengan ya...

Rindu Para Wali

Alhamdulillah, senangnya tubuh ini masih bisa merasakan lelah—sebahagia terbangun kembali di waktu Subuh. Tidak ada yang sulit bagi Allah untuk menghidupkan dan mematikan makhluk. Diiringi musik Wali – Sayang Lahir Batin.mp3 , saya menulis: Kiranya tak berlebihan jika saya terpikat oleh kata-kata yang singkat... Kau begitu hemat dalam bertutur. Kiranya tak tergolong “cupu” jika saya galau dengan pribadimu yang cuek... Kau begitu tenang: yang perlu dibicarakan, dibicarakan; yang tidak perlu, jangan diada-adakan. Kiranya tak tercatat munafik jika saya tersemangati oleh doamu... Kau berdoa dengan paket lengkap: ada harapan, ada peringatan. Bukan sekadar doa. Kiranya tak disebut menghamba jika saya mengidamkan kehadiranmu... Kau pandai bersembunyi dari hal-hal yang samar, menerbitkan rasa penasaran bagi orang di sekelilingmu. Kiranya tak disamakan dengan penguntit jika saya diam-diam memperhatikanmu... Memang, kau bukan pusat perhatian orang-orang. Tapi tidak bagi saya. Kira...

Licking The Wound

Pernah dengar pertanyaan ini: Mengapa saat kita menanam padi, justru tumbuh rumput liar yang mirip padi (dalam bahasa Sunda disebut gagajahan )? Tetapi saat kita menanam rumput liar, tak satu pun tumbuh padi? Memang betul. Sesuatu yang tidak bermanfaat bisa muncul tanpa perlu dipelajari, tanpa perlu dipupuk. Contohnya: semua orang bisa marah. Saya selalu heran saat orang-orang mengedepankan amarah dalam urusan sepele—mengencangkan urat leher saat antreannya diserobot, tidak peduli pakaiannya kehujanan, atau mungkin kalian pernah melihat hal-hal kecil yang sebetulnya bisa dibilang: “Hellooowww... biasa aja kaleee.” Dengan kata lain, semua orang bisa murka. Tak perlu diperlihatkan rasa marah karena tidak ada yang butuh pelajaran itu. Tidak penting dengan aksimu. Bagi saya, seseorang akan menjadi luar biasa jika ia berani keluar dari kebiasaan. Contoh lagi: semua orang mampu marah, tapi akan jauh lebih luar biasa jika ada yang mampu menahan amarahnya. Hal-hal buruk dan hina t...

Bulan Bahasa

Akhir-akhir ini, saya kembali dipertemukan dengan bahasa PHP. Sebuah bahasa pemrograman yang dulu berhasil membuat saya malas mandi selama kuliah. Bahasa ini pula yang menemani masa menganggur menjelang sekolah lagi. Saya anak sastra, bukan pemrograman, tapi bagi saya keduanya memiliki bahasa. Saya gemar, itu saja. Dulu, bahasa PHP sangat seksi di mata saya. Tapi sekarang, mengetik dan mencoba kembali kode-kode tersebut terasa seperti mencari satu jerami di pabrik jarum. Lumayan payah. Benar adanya: jika ingin memahami satu bahasa, gunakanlah. Tentang bahasa pemrograman—entah itu Java, AS Flash, C++, Delphi, HTML—pada dasarnya sama: bersumber dari bahasa basis dua (biner), yaitu 1 dan 0. Siapa pun yang ingin belajar bahasa pemrograman, logikanya sederhana: jika ini nol, maka itu satu, atau sebaliknya. Seterusnya seperti itu. Logika tiap orang akan berbeda dalam menjalankan satu perintah (dan saya merasa paling buruk dalam hal logika). Ada yang 1 1 1 0 0 1, atau 0 0 1 1 1 1. Akan banyak...

Apakah Anti-Hero Masuk Surga?

Image
Catatan, 2015 Saya sering bertanya kepada mahasiswa tentang sosok hero dalam karya fiksi: “Apakah kalian merestui jagoan kalian berbuat kejahatan?” Sebagian besar menjawab, “Saya rela, ikhlas, dan bahkan akan tetap mendukungnya sampai titik darah penghabisan.” Tentu jawaban mereka tidak sepanjang itu—saya melebih-lebihkannya. Yang jelas, saat sosok protagonis tidak memiliki kualitas baik, bahkan sangat sedikit menitipkan moral, yang tetap menjadi panutan pembaca atau penonton adalah tokoh utama dalam cerita tersebut. Di lain kesempatan, saya bertanya, “Kalian akan mendukung siapa saat Spiderman harus berkelahi dengan seorang nenek-nenek berjilbab?” Sebagian besar mahasiswa tetap menjawab: Spiderman. Bukan tanpa alasan mereka mendukung Robin Hood sang pengutil, Hamlet sang pendendam, ibu Malin Kundang sang pemarah, Hellboy yang jelas-jelas berasal dari neraka, atau rela mengantre berjam-jam demi melihat Dominic Toretto melakukan pelanggaran terhadap polisi. Mereka tetap yakin: itulah pa...

Fase Satir

Pernah mendapati orang yang gemar menyindir? Atau mungkin bosan mendengar orang yang bossy—suka meraja? Atau selalu merasa tersindir? Atau yang lebih menjengkelkan: saat Anda bicara sedikit, langsung muncul orang usil menimpali dengan segudang stok pengetahuannya tanpa diminta terlebih dahulu? Tenang, Anda tidak sendirian. Hari itu, sore hari, di kelas drama. Materi yang dibawakan adalah tentang satire (sindiran) dalam salah satu karya Bernard Shaw, Pygmalion. Para pemateri—mahasiswa dan mahasiswi—mengutip pesan alegoris bahwa karya tersebut menyindir golongan kelas atas yang membeda-bedakan status sosial hanya dari cara bicara seseorang. Sebagai contoh, jika seseorang berbicara medok, maka ia akan diberi label “orang kampung” yang sepaket dengan status miskin. Sampai di situ, saya paham. Untungnya, ada mahasiswi cantik berkerudung monokrom yang tidak paham dan bertanya, “Apakah sindiran dari karya tersebut berbuah hasil? Atau pada akhirnya status sosial tetap dibedakan dari cara orang...